Warga Diuji Sigap dan Kompak, Pelatihan Pemadam Kebakaran di Dukuh Jintel Dikemas Jadi Lomba

Screenshot 20260906 131739 Google Screenshot 20260906 131249 WhatsApp Screenshot 20260906 131120 WhatsApp Screenshot 20260906 125620 WhatsAppBOJONEGORO – Lentera Nusantara | Api tidak pernah memberi banyak waktu untuk berpikir. Dalam situasi darurat, beberapa detik bisa menentukan keselamatan. Kesadaran itulah yang coba dibangun warga Dukuh Jintel, Desa Megale, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, melalui pelatihan pemadam kebakaran yang dikemas secara menarik dalam bentuk perlombaan, Minggu (6/9/2026).

Bukan sekadar belajar bagaimana memadamkan api, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengasah keberanian, kecepatan, ketepatan, sekaligus kekompakan dalam menghadapi situasi darurat.

Suasana pelatihan berlangsung semarak. Sejumlah peserta tampak beradu ketangkasan menjalankan simulasi penanganan kebakaran. Dengan perlengkapan yang telah disiapkan, mereka bergerak secara berkelompok, mengoperasikan selang air dan mengarahkan semprotan menuju titik sasaran.

Setiap gerakan membutuhkan koordinasi. Ada yang bertugas memegang selang, mengatur arah, hingga memastikan sasaran dapat ditangani dengan tepat. Di sinilah peserta belajar bahwa menghadapi kebakaran bukan pekerjaan seorang diri.

Kecepatan tanpa koordinasi bisa sia-sia. Sebaliknya, kekompakan dapat menjadi kekuatan ketika situasi benar-benar membutuhkan tindakan cepat.

Konsep perlombaan membuat pelatihan terasa lebih hidup. Peserta tidak hanya berusaha menjadi yang tercepat, tetapi juga dituntut mampu bekerja sama dan mengikuti setiap tahapan dengan benar.

Bagi masyarakat, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga. Mereka tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga merasakan langsung bagaimana menghadapi simulasi keadaan darurat.

Abdullah, salah satu unsur BPD Desa Megale, mengatakan kegiatan tersebut menjadi cara yang menarik untuk menanamkan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.

“Pelatihan ini tidak hanya soal lomba, tetapi bagaimana masyarakat memahami cara bertindak ketika terjadi kebakaran. Dengan latihan seperti ini, warga bisa lebih sigap, kompak, dan tidak panik ketika menghadapi keadaan darurat,” ujar Abdullah.

Menurutnya, keterampilan dasar penanganan kebakaran penting dikenalkan kepada masyarakat. Sebab, ketika kebakaran terjadi, tindakan awal yang cepat dan tepat dapat menjadi bagian penting dalam mencegah keadaan berkembang semakin besar.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin peduli terhadap keselamatan lingkungan.

“Nggih mas, suwun. Bisa untuk menginspirasi masyarakat,” tambahnya.

Lebih dari sekadar adu ketangkasan, kegiatan di Dukuh Jintel memperlihatkan bahwa edukasi keselamatan dapat dikemas dengan cara yang menyenangkan. Perlombaan menjadi media untuk belajar, sementara kebersamaan menjadi kekuatan utama.

Dari selang air yang diarahkan bersama hingga semangat peserta yang saling mendukung, terselip pesan sederhana: ketika menghadapi bencana, masyarakat tidak boleh berjalan sendiri.

Kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum musibah terjadi. Pengetahuan perlu dilatih, keberanian perlu dibentuk, dan kekompakan harus terus dirawat.

Melalui pelatihan tersebut, warga Desa Megale diharapkan semakin memahami pentingnya pencegahan kebakaran, mampu mengambil tindakan awal secara tepat, serta menjadikan semangat gotong royong sebagai kekuatan bersama dalam menjaga keselamatan lingkungan.

Sebab, masyarakat yang siap bukanlah masyarakat yang menunggu bencana datang, melainkan masyarakat yang belajar dan berlatih sebelum keadaan darurat terjadi.

Penulis: Ali Sugiono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *