LAMONGAN–LENTERANUSANTARA.ID || Pembentukan kedisiplinan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan kebiasaan baik sejak dari rumah. Mulai dari belajar, bergaul dengan teman, hingga mengatur batas waktu bermain dan berkegiatan di luar rumah.
Menurut sejumlah wali murid, perhatian orang tua tidak harus berlebihan. Hal sederhana seperti mengingatkan kebutuhan sekolah untuk esok hari justru menjadi bagian penting dalam membangun rasa tanggung jawab anak.
“Hayo diingat, besok apa saja yang perlu dibawa ke sekolah? Ada tugas dari guru atau perlengkapan yang harus disiapkan?” ujar Ibu Tarbiyah, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, kebiasaan mengingatkan anak sebelum tidur dapat membantu mereka belajar mempersiapkan kebutuhan sekolah secara mandiri.
Orang tua juga perlu mengetahui aktivitas anak setelah pulang sekolah. Termasuk dengan siapa mereka bergaul dan bagaimana batas waktu bermain. Pengawasan itu penting agar kegiatan bermain atau berkumpul bersama teman tidak mengganggu waktu belajar maupun istirahat.
Termasuk kebiasaan anak keluar rumah pada malam hari untuk bermain atau berkumpul. Orang tua perlu memberikan batas waktu yang jelas agar anak tetap memiliki waktu cukup untuk belajar, mempersiapkan perlengkapan sekolah, dan beristirahat.
Kebiasaan Kecil Membentuk Kedisiplinan
Kedisiplinan anak tidak terbentuk secara tiba-tiba ketika berada di sekolah. Kebiasaan itu justru dibangun sejak dari rumah, lalu dibawa anak ke lingkungan sekolah.
Ketika orang tua terbiasa mendampingi dan mengingatkan anak menyiapkan kebutuhan sekolah, anak secara perlahan belajar mengenali tanggung jawabnya sendiri.
Sebaliknya, minimnya perhatian terhadap aktivitas dan kebutuhan anak dapat membuat mereka terbiasa menjalani rutinitas tanpa persiapan. Akibatnya, kebutuhan sederhana yang seharusnya sudah disiapkan dari rumah berpotensi terlupakan saat di sekolah.
Karena itu, tanggung jawab mendidik kedisiplinan tidak seharusnya hanya dibebankan kepada sekolah.
Orang tua membangun kebiasaan dari rumah, sedangkan sekolah memperkuatnya melalui pendidikan dan pembinaan.
Disiplin Dimulai dari Kebiasaan
Membawa perlengkapan sekolah sesuai kebutuhan, mengerjakan tugas guru, menyiapkan seragam, tidur tepat waktu, hingga membatasi waktu bermain merupakan bagian dari kebiasaan sederhana yang membentuk karakter disiplin.
“Kalau kebiasaan dilakukan secara konsisten, anak akan terbiasa melakukan sesuatu secara tepat waktu dan bertanggung jawab,” ungkap Ibu Zumrotul Ulya.
Senada yang disampaikan Ibu Adabiyah.
“Wah ibu ki kudu cerewet mengingatkan anak-anaknya untuk belajar dan mempersiapkan kebutuhan esok hari,” bebernya saat diwawancarai _LenteraNusantara.id_.
Dalam konteks persoalan siswa yang lupa membawa atau mengenakan perlengkapan sekolah, hal tersebut bisa menjadi refleksi bersama.
Tidak semestinya seluruh kesalahan langsung dibebankan kepada anak maupun sekolah. Keluarga memiliki ruang untuk meningkatkan perhatian dan pendampingan.
Sementara sekolah juga memiliki tanggung jawab memberikan pembinaan dengan pendekatan yang mendidik dan tidak mempermalukan peserta didik.
Orang Tua dan Sekolah Harus Berjalan Bersama
Pembentukan karakter anak membutuhkan sinergi antara keluarga dan sekolah.
Orang tua membangun kebiasaan disiplin melalui pendampingan di rumah. Sementara guru memperkuat kebiasaan tersebut melalui pembelajaran dan keteladanan di sekolah.
Anak yang disiplin bukan semata-mata hasil dari ketatnya aturan sekolah, melainkan juga buah dari kebiasaan yang ditanamkan keluarga setiap hari.
Perhatian orang tua mungkin terlihat sederhana. Sekadar bertanya tentang tugas dan perlengkapan sekolah untuk esok hari.
Namun dari kebiasaan sederhana itu, anak belajar mengenali tanggung jawab, menghargai waktu, mengatur aktivitas, dan mempersiapkan diri dengan baik.
Disiplin tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus, dimulai dari rumah dan diperkuat di sekolah.
Penulis: Tim Redaksi











