BOJONEGORO —LenteraNusantara|| Pendidikan tidak cukup hanya membuat anak pandai berhitung dan membaca. Di tengah derasnya arus modernisasi, tantangan terbesar justru bagaimana membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, religius, dan memiliki akhlak mulia.
Menjawab tantangan tersebut, SDN Ledokwetan, Kecamatan Bojonegoro, meluncurkan inovasi pendidikan bertajuk SMART (Sinergi Membangun Akademik dan Religi LedokweTan), Sabtu (8/8/2026).
Program tersebut diluncurkan bersamaan dengan kegiatan Jalan Sehat dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum itu sekaligus menjadi penanda komitmen sekolah dalam membangun pola pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan nilai keagamaan.
Peluncuran SMART dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Hj. Nurul Azizah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Anwar Mukhtadlo, jajaran pengawas SD, Forkopimca, tokoh agama, serta tokoh masyarakat Kelurahan Ledokwetan.Sabtu(8/8/2026).
SMART bukan lahir tanpa alasan.
Kesibukan orang tua yang mayoritas bekerja sebagai pekerja maupun pedagang membuat waktu untuk mendampingi anak dalam pendidikan agama di rumah menjadi terbatas.
Kondisi tersebut mendorong SDN Ledokwetan mengambil peran lebih besar. Sekolah berusaha menghadirkan pendidikan akademik sekaligus pendidikan keagamaan dalam satu lingkungan pembelajaran.
Kepala SDN Ledokwetan, Rita Yuana, mengatakan bahwa SMART dirancang sebagai bentuk kepedulian sekolah terhadap kebutuhan pendidikan anak di tengah perubahan zaman.
“Program ini kami hadirkan sebagai solusi konkret. Orang tua tidak perlu khawatir lagi, karena sekolah pasang badan mengawal pendidikan akademik sekaligus membina spiritualitas anak dalam satu wadah yang utuh,” ujar Rita.
Secara tidak langsung, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sekolah ingin membangun kepercayaan orang tua dengan mengambil bagian lebih besar dalam pendampingan pendidikan anak, khususnya dalam penguatan nilai agama dan karakter.
Melalui SMART, sejumlah materi keagamaan diperkuat dalam aktivitas pendidikan, di antaranya:
Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan mengaji;
Fiqih dan Aqidah;
Tahfidz dan Tajwid.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemampuan siswa memahami materi agama, tetapi juga mampu membentuk kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah persaingan pendidikan yang semakin ketat, keberhasilan siswa sering kali diidentikkan dengan nilai rapor, hasil ujian, dan berbagai prestasi akademik.
Namun SDN Ledokwetan mencoba memperluas ukuran keberhasilan tersebut.
“Anak pintar memang penting. Tetapi anak yang pintar sekaligus memiliki adab dan akhlak adalah tujuan pendidikan yang jauh lebih besar,” menjadi semangat yang ingin dibangun melalui SMART.
Kalimat tersebut sekaligus menggambarkan arah program yang menempatkan karakter sebagai bagian penting dari keberhasilan pendidikan.
Wakil Bupati Bojonegoro Hj. Nurul Azizah memberikan apresiasi terhadap langkah SDN Ledokwetan tersebut. Ia menilai keberanian sekolah melahirkan inovasi menunjukkan bahwa satuan pendidikan harus terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.
Secara tidak langsung, apresiasi tersebut menegaskan bahwa inovasi pendidikan tidak harus selalu lahir dari program berskala besar. Perubahan juga dapat dimulai dari satu sekolah yang berani membaca kebutuhan lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Anwar Mukhtadlo turut menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan akademik dan pembentukan karakter.
Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata mengejar kecerdasan intelektual. Pembentukan sikap, moral, dan karakter peserta didik juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan.
“Pendidikan harus mampu membangun anak-anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan nilai-nilai yang baik,” demikian pesan yang disampaikan dalam momentum peluncuran SMART.
Pernyataan tersebut memperkuat gagasan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab lebih luas dalam mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan sosial, bukan hanya menghadapi ujian.
Sesuai namanya, SMART menempatkan sinergi sebagai fondasi utama.
Sekolah tidak dapat berjalan sendiri. Orang tua, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lingkungan sekitar harus memiliki perhatian yang sama terhadap tumbuh kembang anak.
Rita Yuana menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak.
“Kami ingin sekolah, orang tua dan masyarakat memiliki tujuan yang sama dalam mendampingi anak-anak. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Kalimat langsung tersebut memperlihatkan bahwa SMART tidak dirancang sebagai program yang hanya berjalan di dalam ruang kelas. Sebaliknya, sekolah ingin membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian, nilai yang ditanamkan di sekolah diharapkan dapat diteruskan di rumah dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Peluncuran SMART menjadi langkah awal SDN Ledokwetan dalam menjawab tantangan pendidikan di tengah perubahan zaman.
Akademik dibangun. Religi dikuatkan. Karakter ditanamkan. Sinergi digerakkan.
Empat hal tersebut menjadi ruh yang ingin dibawa melalui program SMART.
Sebab, generasi masa depan Bojonegoro tidak hanya membutuhkan anak yang mampu menjawab soal di ruang ujian. Mereka membutuhkan generasi yang mampu mengambil keputusan dengan akal sehat, bertindak dengan tanggung jawab, serta memiliki nilai moral sebagai pijakan.
Dari Ledokwetan, ikhtiar itu dimulai.
SMART bukan sekadar nama sebuah program. Ia adalah upaya menyiapkan generasi dengan ilmu di kepala, agama di dada, dan akhlak dalam setiap langkah.
Penulis:Alisugiono.







