BOJONEGORO – Lentera Nusantara|| Menjago keamanan bukan semata soal patroli dan penindakan. Ada cara yang lebih elok: datang, duduk, berbincang dan merawat persaudaraan. Itulah yang dilakukan Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty saat kebat bersilaturahmi ke tigo perguruan pencak silat di Kampung Pesilat Kabupaten Bojonegoro, Senin (24/8/2026).
Tigo perguruan itu yakni Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKS PI) Kera Sakti Cabang Bojonegoro, Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Cabang Bojonegoro, dan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Cabang Bojonegoro.

Silaturahmi tersebut bukan sekadar kunjungan. Di balik pertemuan itu tersimpan ikhtiar mempererat tali komunikasi, menyamakan langkah dan menjaga agar persaudaraan antarp perguruan tetap teduh di tengah masyarakat.
Perjalanan dimulai dari Sekretariat IKS PI Kera Sakti Cabang Bojonegoro di Desa Bogo, Kecamatan Dander. AKBP Yenni Diarty bersama rombongan disambut Ketua IKS PI Kera Sakti Arief Nanang Sugianto beserta jajaran pengurus.
Dari Dander, rombongan kemudian bertandang ke Sekretariat PSHW Cabang Bojonegoro di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas. Di sana, Kapolres diterima Ketua PSHW Cabang Bojonegoro Sasmito Anggoro bersama jajaran pengurus.
Langkah silaturahmi kemudian dilanjutkan ke Sekretariat PSNU Pagar Nusa Cabang Bojonegoro di Dusun Bahoro, Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo. Kedatangan Kapolres disambut Ketua PSNU Pagar Nusa Cabang Bojonegoro Bisri Choiron.
Dalam setiap pertemuan, satu pesan terus ditekankan: perguruan silat bukan sekadar tempat menempa kemampuan bela diri, tetapi juga ruang membangun persaudaraan, kedisiplinan dan tanggung jawab sosial.
“Mari menjaga kerukunan antarperguruan silat di wilayah Bojonegoro demi terwujudnya Harkamtibmas yang aman dan kondusif,” ujar AKBP Yenni Diarty.
Menurut Kapolres, keamanan dan ketertiban masyarakat bukan hanya tanggung jawab polisi. Para pengurus dan anggota perguruan silat pun memiliki peran penting dalam menjaga suasana tetap adem, terutama ketika muncul persoalan yang berpotensi menimbulkan gesekan.
Komunikasi, kata dia, menjadi kunci. Bila ada persoalan, eloknyo dibicarakan. Bila ada kabar, hendaknyo diperiksa dahulu. Jangan sampai kabar yang belum tentu benar berubah menjadi api yang membakar persaudaraan.
Karena itu, Kapolres juga mengingatkan keluarga besar perguruan silat agar tidak mudah terprovokasi informasi di media sosial. Setiap kabar yang beredar perlu disaring dan dipastikan kebenarannya sebelum dipercayai maupun diteruskan.
Polres Bojonegoro juga memiliki Bojonegoro Kampung Pesilat (BKP) sebagai wadah komunikasi dan pemersatu organisasi pencak silat hingga tingkat Polsek. Wadah tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi sekaligus mengantisipasi sejak dini setiap potensi gangguan Kamtibmas.
Apresiasi pun datang dari tiga perguruan. Arief Nanang Sugianto, Sasmito Anggoro dan Bisri Choiron menyambut baik silaturahmi Kapolres beserta jajaran serta menyatakan komitmen untuk terus bersinergi menjaga keamanan dan persaudaraan di Kabupaten Bojonegoro.
Cinderamata yang diserahkan para ketua perguruan kepada Kapolres menjadi penutup rangkaian silaturahmi. Sebuah simbol sederhana, tetapi menyimpan makna yang cukup dalam: hubungan baik hendaknya terus dirawat, komunikasi jangan sampai putus, dan persaudaraan jangan mudah dikalahkan perbedaan.
Sebab pada akhirnya, tigo perguruan boleh berbeda nama, berbeda tradisi dan berbeda jalan latihan. Namun tanah yang dipijak tetap satu, masyarakat yang dijago tetap satu, dan Bojonegoro adalah rumah bersama.
Beda perguruan, tetap bersaudara. Beda langkah, tetap satu tujuan: menjaga Bojonegoro tetap aman, adem dan tentrem.
Penulis:Alisugiono/Red /lis.











