BOJONEGORO – LenteraNusantara || Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty bersama Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah turun langsung melempar tajur dalam Lomba Mancing Kamtibmas Polres Bojonegoro di Kolam Pancing MCM, Jalan Pemuda, Bojonegoro, Selasa (25/8/2026).
Dua srikandi Bojonegoro itu hadir bukan sekadar sebagai peserta lomba. Kehadiran keduanya menjadi simbol pertautan antara kepolisian dan pemerintah daerah dalam merawat keamanan dan ketertiban masyarakat.
Di tempat yang sama, sebanyak 120 peserta dari unsur Kampung Pesilat, media, dan masyarakat ikut duduk bersama di tepian kolam. Mereka menjadikan lomba mancing sebagai ruang sederhana untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi.
Pelampung mengapung di atas air. Mata peserta menunggu gerakannya. Tangan menahan diri agar tidak tergesa menarik tajur.
Dari suasana sederhana itu, terselip pesan tentang Kamtibmas.
Memancing membutuhkan kesabaran, ketenangan, kecermatan membaca tanda, serta ketepatan mengambil keputusan. Pelampung bergerak belum tentu ikan menyambar. Riak air belum tentu menjadi tanda kail harus segera ditarik.
Begitu pula dalam menjaga keamanan.
Tidak setiap persoalan harus dihadapi dengan tergesa-gesa. Ada persoalan yang lebih baik diselesaikan melalui komunikasi, dialog, pendekatan persuasif, dan silaturahmi.
Namun, ketika keadaan menuntut tindakan, keputusan harus diambil secara tepat dan terukur.
Di situlah lomba mancing menjadi bahasa sederhana dalam menggambarkan cara merawat Kamtibmas: tenang membaca keadaan, sabar menghadapi persoalan, dan tepat ketika mengambil tindakan.
Kapolres AKBP Yenni Diarty dan Wakil Bupati Nurul Azizah menunjukkan bahwa sinergi tidak selalu harus dibangun di ruang rapat, podium, atau forum resmi.
Kadang, persaudaraan justru tumbuh dari tempat yang sederhana. Dari tepian kolam. Dari percakapan ringan. Dari tawa. Dari kebersamaan.
Sebanyak 120 peserta pun menjadi bagian dari simpul kebersamaan tersebut.
Kampung Pesilat membawa semangat persaudaraan. Pemerintah membawa tanggung jawab pelayanan. Kepolisian membawa mandat menjaga keamanan. Media menjadi jembatan informasi. Sementara masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga lingkungan tetap aman dan kondusif.
Satu kolam, 120 tajur, dan satu ikhtiar: merajut Kamtibmas Bojonegoro yang aman, guyub, dan kondusif.
Sebab keamanan tidak mungkin dipancing seorang diri.
Di MCM, yang dipancing bukan hanya ikan. Ada silaturahmi yang didekatkan, komunikasi yang dicairkan, dan sinergi yang dikuatkan.
Ikan boleh menjadi hasil lomba. Namun, persaudaraan adalah hasil yang jauh lebih berharga.
Penulis: Alisugiono










