BOJONEGORO – LENTERA NUSANTARA | Di tengah maraknya aksi demonstrasi yang menyuarakan tuntutan perampasan aset di sejumlah daerah, warga Megale, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, memilih cara berbeda dalam mengekspresikan semangat perjuangan.
Bukan turun ke jalan dengan poster dan tuntutan, puluhan warga Megale Kulon justru “berdemonstrasi” melalui karnaval. Mereka mengenakan kostum dan menampilkan sosok para pejuang kemerdekaan sebagai gambaran perjuangan tempo dulu.
Kreativitas tersebut ditampilkan ketika Megale Kulon dipercaya mewakili Desa Megale dalam Karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Kedungadem, Senin (31/8/2026).
Penampilan itu bukan sekadar untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan. Lebih dari itu, warga menjadikan karnaval sebagai ruang untuk mengenang jasa para pejuang, menumbuhkan semangat patriotisme, sekaligus memberikan gambaran sejarah perjuangan kepada generasi muda.
Dengan nomor peserta 016, rombongan Megale Kulon tampil mengusung konsep perjuangan. Sekitar 55 warga, yang terdiri atas orang tua dan remaja, berjalan bersama dalam satu barisan.
Kekompakan lintas generasi tersebut berbuah penghargaan. Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Megale Kulon mengumpulkan 885 poin dan berhasil meraih Juara Harapan II kategori instansi/umum.
Karnaval tingkat Kecamatan Kedungadem itu diikuti sebanyak 16 peserta. Rangkaian kegiatan dimulai dari Lapangan Mlidek. Selanjutnya, peserta bergerak menyusuri rute yang telah ditentukan hingga finis di kawasan Pendopo Gandul Roso, Ngaglik, Desa Kedungadem, tepatnya di sisi barat Pasar Kedungadem.
Dalam kategori instansi/umum, Juara Umum diraih Gandul Roso dengan 987 poin. Posisi berikutnya ditempati Gembong Singo Joyo dengan 911 poin, disusul IGABA dengan 901 poin.
Sementara itu, Juara Harapan I diraih AeroFit Fit Club by Coach Neny Geuliez dengan 892 poin. Megale Kulon berada di posisi Juara Harapan II dengan 885 poin, sedangkan Ngaglik Bersatu meraih Juara Harapan III dengan 824 poin.
Hasil tersebut ditetapkan melalui berita acara yang ditandatangani Ketua Panitia Lomba Hadid Firdaus Wibisono, S.Pd., M.Pd., bersama dewan juri Gampang Prawoto, S.Pd., Iwan Hermawan Setianto, S.Sos., dan Harianto Abdullah pada 31 Agustus 2026.
Bagi warga Megale Kulon, penghargaan tersebut merupakan buah dari dukungan dan kebersamaan masyarakat. Persiapan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan warga dari berbagai kelompok usia.
Salah seorang peserta Megale Kulon, Mbak Tin, mengatakan dukungan Pemerintah Desa Megale turut membantu kelancaran rombongan saat mengikuti karnaval di tingkat kecamatan.
“Tadi pas di kecamatan didanai perangkat desa. Sound dari Bapak Kepala Desa. Snack, makan, dan air minum semua ditanggung perangkat,” ungkapnya.
Dukungan tersebut membuat warga semakin bersemangat membawa nama Desa Megale ke panggung kecamatan. Orang tua dan remaja berpadu dalam satu barisan, menampilkan gambaran perjuangan dengan cara kreatif dan penuh semangat.
Jika demonstrasi di jalan identik dengan penyampaian aspirasi, warga Megale Kulon memilih panggung yang berbeda. Mereka menjadikan karnaval sebagai ruang untuk mengekspresikan semangat perjuangan, kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap bangsa.
Dari lingkungan Megale Kulon, mereka dipercaya membawa nama Desa Megale. Setelah berpartisipasi di tingkat desa, rombongan tersebut tampil di tingkat kecamatan dan akhirnya pulang membawa penghargaan.
Capaian itu menjadi bukti bahwa semangat perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk orasi maupun aksi massa. Di tangan warga Megale Kulon, semangat tersebut diwujudkan melalui kreativitas, kebersamaan, dan barisan para pejuang yang berjalan menyusuri jalanan Kedungadem.
Karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Kedungadem pun menjadi panggung bagi warga untuk merayakan kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.
Megale Kulon tidak sekadar hadir sebagai peserta. Mereka datang membawa nama Desa Megale dan pulang membawa Juara Harapan II, sekaligus kebanggaan bagi masyarakat desa.
Penulis: Mas Al











