BOJONEGORO –LenteraNusantara || Peta kontribusi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bojonegoro terhadap kas daerah pada 2027 mulai terlihat.
Dari pembahasan KUA-PPAS 2027 bersama Komisi B DPRD Bojonegoro, PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) muncul sebagai “striker andalan” dengan proyeksi dividen mencapai Rp78,7 miliar.
Angka tersebut menjadi sorotan karena nilainya jauh melampaui proyeksi dividen BUMD lain yang dibahas dalam rapat kerja Komisi B, Rabu (12/8/2026).
Dalam peta sementara proyeksi dividen 2027, ADS berada di posisi teratas. Di bawahnya terdapat PT BPR Bank Daerah Bojonegoro dengan proyeksi dividen sekitar Rp14,4 miliar, kemudian Perumda Air Minum Tirta Buana Rp3,8 miliar, dan PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) Rp2,32 miliar.
Sementara Griya Dharma Kusuma (GDK) diproyeksikan menyumbang sekitar Rp25,926 juta, sedangkan Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri masih menunggu mekanisme pembagian dividen melalui RUPS.
Jika angka-angka tersebut terealisasi, potensi dividen dari BUMD yang sudah memiliki proyeksi mencapai sekitar Rp99,2 miliar, belum termasuk Pangan Mandiri.
Besarnya proyeksi ADS membuat perusahaan tersebut menjadi salah satu penentu utama seberapa besar kontribusi BUMD terhadap pendapatan daerah pada 2027.
Dengan proyeksi Rp78,7 miliar, kontribusi ADS mencapai sekitar 79 persen dari total proyeksi dividen yang sudah memiliki angka.
Artinya, kinerja ADS akan sangat menentukan apakah target dividen BUMD secara keseluruhan benar-benar mampu memberikan tambahan signifikan bagi kas daerah.
Namun, angka tersebut masih berstatus proyeksi.
Komisi B DPRD Bojonegoro dalam pembahasan KUA-PPAS 2027 menekankan agar target yang dicantumkan dalam dokumen anggaran memiliki dasar perhitungan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri, sebelumnya menegaskan bahwa pembahasan tidak sekadar melihat angka yang tertulis dalam laporan.
“Jadi tidak hanya asal menulis laporan, tapi juga harus dipertanggungjawabkan sesuai perkembangan yang ada,” tegas Lasuri.
Bukan Sekadar Angka di RKA
Besarnya target ADS otomatis melahirkan pertanyaan: dari mana sumber proyeksi Rp78,7 miliar tersebut?
Komisi B dan Pemkab Bojonegoro perlu membuka basis perhitungannya, termasuk proyeksi laba, porsi kepemilikan daerah, mekanisme pembagian dividen, serta kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebab, target dividen tidak sama dengan realisasi setoran.
Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dapat menetapkan target, tetapi pembuktian akhirnya berada pada laporan keuangan dan uang yang benar-benar masuk ke rekening kas daerah.
Karena itu, posisi ADS sebagai “striker” utama dividen BUMD Bojonegoro 2027 justru membuat publik memiliki alasan lebih kuat untuk mengawasi kinerjanya.
BPR di Posisi Kedua
Di belakang ADS, PT BPR Bank Daerah Bojonegoro diproyeksikan menjadi kontributor terbesar kedua dengan dividen sekitar Rp14,4 miliar.
Jika ditambahkan dengan Tirta Buana Rp3,8 miliar dan BBS Rp2,32 miliar, tiga BUMD tersebut menambah potensi sekitar Rp20,52 miliar.
Namun angka tersebut masih jauh di bawah proyeksi ADS.
Perbandingan ini menunjukkan adanya kesenjangan besar kemampuan masing-masing BUMD dalam menghasilkan kontribusi kepada daerah.
Pertanyaan berikutnya bukan hanya siapa yang mampu menghasilkan dividen terbesar, tetapi juga berapa modal daerah yang telah ditanamkan untuk menghasilkan dividen tersebut.
Rasio antara penyertaan modal, laba bersih dan dividen menjadi penting untuk mengukur apakah investasi pemerintah daerah benar-benar memberikan imbal hasil yang optimal.
Striker Harus Membuktikan
Dengan proyeksi Rp78,7 miliar, ADS kini berada di garis depan target dividen BUMD Bojonegoro 2027.
Tetapi seperti pertandingan sepak bola, status sebagai striker andalan baru bermakna jika mampu mencetak gol.
Dalam konteks BUMD, “gol” tersebut adalah laba yang benar-benar terealisasi dan dividen yang benar-benar masuk ke kas daerah.
Karena itu, publik patut menunggu pembuktian:
Apakah Rp78,7 miliar benar-benar terealisasi?
Berapa laba yang menjadi dasar pembagian dividen ADS?
Berapa penyertaan modal daerah di ADS dan berapa tingkat pengembaliannya?
Dan yang paling penting:
Berapa rupiah yang benar-benar masuk ke kas daerah pada akhirnya?
Target sudah dipasang. ADS menjadi striker andalan. Kini tinggal menunggu pembuktiannya di lapangan.
Penulis: AliSugiono.










